hari ini cuaca nya sangat dingin, dan saya teringat film frozen disney...
frozen
Jumat, 28 November 2014
Senin, 24 November 2014
ULANGAN PRAKTEK
SISTEM PEMERINTAHAN DEMOKRASI
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.
Kata ini berasal dari bahasa Yunani δημοκρατία (dēmokratía) "kekuasaan rakyat",[1] yang terbentuk dari δῆμος (dêmos) "rakyat" dan κράτος (kratos) "kekuatan" atau "kekuasaan" pada abad ke-5 SM untuk menyebut sistem politik negara-kota Yunani, salah satunya Athena; kata ini merupakan antonim dari ἀριστοκρατία (aristocratie) "kekuasaan elit". Secara teoretis, kedua definisi tersebut saling bertentangan, namun kenyataannya sudah tidak jelas lagi.[2] Sistem politik Athena Klasik, misalnya, memberikan kewarganegaraan demokratis kepada pria elit yang bebas dan tidak menyertakan budak dan wanita dalam partisipasi politik. Di semua pemerintahan demokrasi sepanjang sejarah kuno dan modern, kewarganegaraan demokratis tetap ditempati kaum elit sampai semua penduduk dewasa di sebagian besar negara demokrasi modern benar-benar bebas setelah perjuangan gerakan hak suara pada abad ke-19 dan 20. Kata demokrasi (democracy) sendiri sudah ada sejak abad ke-16 dan berasal dari bahasa Perancis Pertengahan dan Latin Pertengahan lama.
Suatu pemerintahan demokratis berbeda dengan bentuk pemerintahan yang kekuasaannya dipegang satu orang, seperti monarki, atau sekelompok kecil, seperti oligarki. Apapun itu, perbedaan-perbedaan yang berasal dari filosofi Yunani ini[3] sekarang tampak ambigu karena beberapa pemerintahan kontemporer mencampur aduk elemen-elemen demokrasi, oligarki, dan monarki. Karl Popper mendefinisikan demokrasi sebagai sesuatu yang berbeda dengan kediktatoran atau tirani, sehingga berfokus pada kesempatan bagi rakyat untuk mengendalikan para pemimpinnya dan menggulingkan mereka tanpa perlu melakukan revolusi.[4]
Ada beberapa jenis demokrasi, tetapi hanya ada dua bentuk dasar. Keduanya menjelaskan cara seluruh rakyat menjalankan keinginannya. Bentuk demokrasi yang pertama adalah demokrasi langsung, yaitu semua warga negara berpartisipasi langsung dan aktif dalam pengambilan keputusan pemerintahan. Di kebanyakan negara demokrasi modern, seluruh rakyat masih merupakan satu kekuasaan berdaulat namun kekuasaan politiknya dijalankan secara tidak langsung melalui perwakilan; ini disebut demokrasi perwakilan. Konsep demokrasi perwakilan muncul dari ide-ide dan institusi yang berkembang pada Abad Pertengahan Eropa, Era Pencerahan, dan Revolusi Amerika Serikat dan Perancis.[5]
Muhammad Toha (1927 – 24 Maret 1946)
Tempat kelahira : Bandung, Hindia Belanda (sekarang Indonesia)
Tempat kematian : Bandung, Indonesia
Pengabdian bagi : Republik Indonesia
Dinas/cabang : Barisan Rakjat Indonesia
Lama berdinas : 1945 – 1946
Pangkat : Komandan
Kesatuan : Milisi Penggempur
Komando : milisi gerilya
Pertempuran/perang : Bandung Lautan Api (Perang Kemerdekaan Indonesia)
SK Pres: 124 Tahun 1965 bertanggal 14 – 5 – 1965
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.
Kata ini berasal dari bahasa Yunani δημοκρατία (dēmokratía) "kekuasaan rakyat",[1] yang terbentuk dari δῆμος (dêmos) "rakyat" dan κράτος (kratos) "kekuatan" atau "kekuasaan" pada abad ke-5 SM untuk menyebut sistem politik negara-kota Yunani, salah satunya Athena; kata ini merupakan antonim dari ἀριστοκρατία (aristocratie) "kekuasaan elit". Secara teoretis, kedua definisi tersebut saling bertentangan, namun kenyataannya sudah tidak jelas lagi.[2] Sistem politik Athena Klasik, misalnya, memberikan kewarganegaraan demokratis kepada pria elit yang bebas dan tidak menyertakan budak dan wanita dalam partisipasi politik. Di semua pemerintahan demokrasi sepanjang sejarah kuno dan modern, kewarganegaraan demokratis tetap ditempati kaum elit sampai semua penduduk dewasa di sebagian besar negara demokrasi modern benar-benar bebas setelah perjuangan gerakan hak suara pada abad ke-19 dan 20. Kata demokrasi (democracy) sendiri sudah ada sejak abad ke-16 dan berasal dari bahasa Perancis Pertengahan dan Latin Pertengahan lama.
Suatu pemerintahan demokratis berbeda dengan bentuk pemerintahan yang kekuasaannya dipegang satu orang, seperti monarki, atau sekelompok kecil, seperti oligarki. Apapun itu, perbedaan-perbedaan yang berasal dari filosofi Yunani ini[3] sekarang tampak ambigu karena beberapa pemerintahan kontemporer mencampur aduk elemen-elemen demokrasi, oligarki, dan monarki. Karl Popper mendefinisikan demokrasi sebagai sesuatu yang berbeda dengan kediktatoran atau tirani, sehingga berfokus pada kesempatan bagi rakyat untuk mengendalikan para pemimpinnya dan menggulingkan mereka tanpa perlu melakukan revolusi.[4]
Ada beberapa jenis demokrasi, tetapi hanya ada dua bentuk dasar. Keduanya menjelaskan cara seluruh rakyat menjalankan keinginannya. Bentuk demokrasi yang pertama adalah demokrasi langsung, yaitu semua warga negara berpartisipasi langsung dan aktif dalam pengambilan keputusan pemerintahan. Di kebanyakan negara demokrasi modern, seluruh rakyat masih merupakan satu kekuasaan berdaulat namun kekuasaan politiknya dijalankan secara tidak langsung melalui perwakilan; ini disebut demokrasi perwakilan. Konsep demokrasi perwakilan muncul dari ide-ide dan institusi yang berkembang pada Abad Pertengahan Eropa, Era Pencerahan, dan Revolusi Amerika Serikat dan Perancis.[5]
Pahlawan Asal Jawa Barat
Tempat kelahira : Bandung, Hindia Belanda (sekarang Indonesia)
Tempat kematian : Bandung, Indonesia
Pengabdian bagi : Republik Indonesia
Dinas/cabang : Barisan Rakjat Indonesia
Lama berdinas : 1945 – 1946
Pangkat : Komandan
Kesatuan : Milisi Penggempur
Komando : milisi gerilya
Pertempuran/perang : Bandung Lautan Api (Perang Kemerdekaan Indonesia)
Muhammad Toha atau Mohammad Toha (Bandung, 1927 – Bandung, 24 Maret
1946) adalah seorang komandan Barisan Rakjat Indonesia, sebuah kelompok
milisi pejuang yang aktif dalam masa Perang Kemerdekaan Indonesia. Dia
dikenal sebagai tokoh pahlawan dalam peristiwa Bandung Lautan Api di
Kota Bandung, Indonesia tanggal 24 Maret 1946. Toha meninggal dalam
kebakaran dalam misi penghancuran gudang amunisi milik Tentara Sekutu
bersama rekannya, Ramdan, setelah meledakkan dinamit dalam gudang
amunisi tersebut.
Pada tanggal 23 Maret 1946 tentara Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum
ke-2. Mereka menuntut agar semua masyarakat dan pejuang TKR
mengosongkan kota Bandung bagian selatan. Perlu diketahui bahwa sejak 24
Januari 1946, TKR telah mengubah namanya menjadi TRI.Demi
mempertimbangkan politik dan keselamatan rakyat, pemerintah
memerintahkan TRI dan para pejuang lainnya untuk mundur dan mengevakuasi
Bandung Selatan. setelah mengadakan musyawarah, para pejuang sepakat
untuk menuruti perintah pemerintah. Tapi mereka tidak mau menyerahkan
kota Bandung bagian selatan itu secara utuh.
Rakyat pun diungsikan ke luar kota Bandung. Para anggota TRI dengan
berat hati meninggalkan Bandung bagian selatan. Sebelum ditinggalkan
Bandung Selatan dibumihanguskan oleh para pejuang dan anggota TRI.
Peristiwa ini di kenal dengan sebutan “Bandung Lautan Api”. Dalam
rangkaian peristiwa tersebut Toha gugur dalam misinya menghancurkan
gudang amunisi Tentara Sekutu. Dalam peristiwa ini juga terlahir lagu
Halo, Halo Bandung yang dinyanyikan para tentara Republik dalam
penantian mereka untuk kembali ke rumah mereka di Bandung.
Dewi Sartika adalah salah seorang tokoh pendidikan untuk kaum perempuan.
Berasal dari keluarga bangsawan Sunda, Dewi Sartika lahir di Bandung, 4
Desember 1884. Pada saat itu, Dewi Sartika telah di sekolahkan oleh
orangtuanya ke sekolah Belanda. Meskipun, pada saat itu tindakan
orangtua Dewi Sartika melanggar adat yang berlaku.Sejak kecil, Dewi
Sartika telah memiliki bakat untuk menjadi guru. Dewi Sartika sering
mengajari baca dan tulis kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan
bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikan alat bantu
belajar.
Sejak tahun 1902, dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum
perempuan. Di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di
hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak,
jahit-menjahit, membaca, menulis menjadi materi pelajaran saat itu.Pada
tahun-tahun berikutnya, di beberapa wilayah Pasundan bermunculan
beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan
Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika.Pada bulan
September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya
yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi Sakola
Raden Dewi. Pemerintah Hindia Belanda menganugerahinya bintang jasa atas
jasanya dalam bidang pendidikan.
Ir. R. Djoeanda Kartawidjaja atau Ir. Haji Juanda lahir di Tasikmalaya,
Jawa Barat, 14 Januari 1911 adalah Perdana Menteri Indonesia ke-10
sekaligus yang terakhir, namanya diabadikan menjadi sebuah nama bandar
udara di Surabaya yaitu bandar udara Djuanda Surabaya. Ia menjabat dari 9
April 1957 hingga 9 Juli 1959. Setelah itu ia menjabat sebagai Menteri
Keuangan dalam Kabinet Kerja I. Sumbangannya yang terbesar dalam masa
jabatannya adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang menyatakan bahwa
laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam
kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI atau dikenal
dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United
Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS).
Djuanda memimpin para pemuda mengambil-alih Jawatan Kereta Api dari
Jepang. Disusul pengambil-alihan Jawatan Pertambangan, Kotapraja,
Keresidenan dan obyek-obyek militer di Gudang Utara Bandung. Kemudian
pemerintah RI mengangkat Djuanda sebagai Kepala Jawatan Kereta Api untuk
wilayah Jawa dan Madura. Setelah itu, dia diangkat menjabat Menteri
Perhubungan. Dia pun pernah menjabat Menteri Pengairan, Kemakmuran,
Keuangan dan Pertahanan. Beberapa kali dia memimpin perundingan dengan
Belanda. Di antaranya dalam Perundingan KMB, dia bertindak sebagai Ketua
Panitia Ekonomi dan Keuangan Delegasi Indonesia. Dalam Perundingan KMB
ini, Belanda mengakui kedaulatan pemerintahan RI.
Djuanda sempat ditangkap tentara Belanda saat Agresi Militer II tanggal
19 Desember 1948. Dia dibujuk agar bersedia ikut dalam pemerintahan
Negara Pasundan. Tetapi dia menolak. Dia seorang abdi negara dan
masyarakat yang bekerja melampaui batas panggilan tugasnya. Mampu
menghadapi tantangan dan mencari solusi terbaik demi kepentingan bangsa
dan negaranya. Karya pengabdiannya yang paling strategis adalah
Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957.
Oto Iskandar di Nata lahir pada 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Kabupaten
Bandung. Ayah Oto adalah keturunan bangsawan Sunda bernama Nataatmadja.
Oto adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara. Oto menempuh pendidikan
dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Bandung, kemudian
melanjutkan di Kweekschool Onderbouw (Sekolah Guru Bagian Pertama)
Bandung, serta di Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas) di Purworejo,
Jawa Tengah. Setelah selesai bersekolah, Oto menjadi guru HIS di
Banjarnegara, Jawa Tengah. Pada bulan Juli 1920, Oto pindah ke Bandung
dan mengajar di HIS bersubsidi serta perkumpulan Perguruan Rakya
Dalam kegiatan pergarakannya di masa sebelum kemerdekaan, Oto pernah
menjabat sebagai Wakil Ketua Budi Utomo cabang Bandung pada periode
1921-1924, serta sebagai Wakil Ketua Budi Utomo cabang Pekalongan tahun
1924. Ketika itu, ia menjadi anggota Gemeenteraad ("Dewan Kota")
Pekalongan mewakili Budi Utomo.Oto juga menjadi anggota Volksraad
("Dewan Rakyat", semacam DPR) yang dibentuk pada masa Hindia Belanda
untuk periode 1930-1941.
Pada masa penjajahan Jepang, Oto menjadi Pemimpin surat kabar Tjahaja
(1942-1945). Ia kemudian menjadi anggota BPUPKI dan PPKI yang dibentuk
oleh pemerintah pendudukan Jepang sebagai lembaga-lembaga yang membantu
persiapan kemerdekaan Indonesia.Setelah proklamasi kemerdekaan, Oto
menjabat sebagai Menteri Negara pada kabinet yang pertama Republik
Indonesia tahun 1945. Ia bertugas mempersiapkan terbentuknya BKR dari
laskar-laskar rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam
melaksanakan tugasnya, Oto diperkirakan telah menimbulkan ketidakpuasan
pada salah satu laskar tersebut. Ia menjadi korban penculikan sekelompok
orang yang bernama Laskar Hitam, hingga kemudian hilang dan
diperkirakan terbunuh di daerah Banten.
Lahir di Bandung, 29 Maret 1921. Pendidikan HIS di Lahat 1934, MULO di
Bandung 1938, AMS di Jakarta 1941 dan Sekolah Pelayaran Tinggi.Ia tidak
sempat menyelesaikan Sekolah Tehnik Pelayaran karena pendudukan Jepang.
Selanjutnya ia masuk Sekolah Pelayaran Tinggi yang diselenggarakan
Jepang. Selama mengikuti pendidikan, ia tampak menonjol sehingga
diangkat menjadi Guru Bantu. Tahun 1944, ia diangkat sebagai Nahkoda
Kapal Pelatih.
Ia menghimpun pemuda bekas siswa Pelayaran Tinggi dan mereka berhasil
merebut beberapa buah kapal milik Jepang di Pasar Ikan Jakarta.
Selanjutnya mereka menguasai beberapa kantor di Tanjung Priok dan Jl
Budi Utomo Jakarta. Setelah pemerintah membentuk BKR, pemuda-pemuda
pelaut bekas pelajar dan guru Sekolah Pelayaran Tinggi serta
pelaut-pelaut Jawa Unko Kaisya yang dikoordinir oleh M. Pardi, Adam,
Martadinata, Surjadi Untoro dll membentuk BKR Laut Pusat yang dalam
perjalanannya berubah menjadi TKR Laut, diubah lagi menjadi TRI Laut dan
bulan Februari berganti lagi menjadi ALRI.
Ketika terjadi pemberontakan G.30.S/PKI tahun 1965, dalam kapasitas
sebagai Menteri/Panglima Angkatan Laut, R.E. Martadinata segera
memberikan reaksi mengutuk gerakan tersebut dan menyatakan ALRI
bekerjasama dengan AD untuk menumpas G.30.S/PKI. Tindakannya tersebut
ternyata tidak disenangi oleh Presiden Soekarno sehingga jabatannya
sebagai Menteri/Panglima Angkatan Laut dicopot dan digantikan oleh
Laksamana Muda Mulyadi. Martadinata kemudian diangkat menjadi Duta Besar
dan Berkuasa penuh RI untuk Pakistan.
Dalam rangka menyambut hari ulang tahun ABRI ke-21, R.E. Martadinata
kembali ke Indonesia mendampingi 3 tamu dari Pakistan yaitu Kolonel Laut
Maswar bersama istri serta Nyonya Rouf, istri dari Deputy I Kepala
Staff Angkatan Laut Pakistan. Pada tanggal 6 Oktober 1966, mereka
mengadakan perjalanan menaiki helikopter Alloutte II milik ALRI dengan
dikemudikan pilot Letnan Laut Charles Willy Kairupan yang ternyata
helikopter yang dikemudikannya menabrak bukit dan dalam kecelakaan
tersebut seluruh penumpang dan pilot termasuk Laksamana Laut
R.E.Martadinata tewas. Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan
Nasional karena pengabdiannya untuk negeri ini.
Dilahirkan di Purwakarta, Jawa Barat pada tanggal 8 September 1898 dalam
sebuah keluarga terpandang sebagai Raden Soelaiman Effendi Koesoemah
Atmadja.Kusumah Atmadja pun dapat mengenyam pendidikan yang layak. Ia
memperoleh gelar diploma dari Rechtshcool atau Sekolah Kehakiman pada
1913.
Kusumah Atmadja mengawali kariernya sebagai pegawai pengadilan pada
1919. Ia diangkat sebagai pegawai yang diperbantukan pada Pengadilan
diBogor. Tahun itu juga , ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan
pendidikan hukumnya di Universitas Leiden, Belanda.Pada 1922, Kusumah
Atmadja menyelesaikan studinya. Gelar Doctor in de recht geleerheid pun
diperoleh dengan disertasi yang berjudul De Mohamedaansche Vrome
Stichtingen in Indie (Lembaga Ulama Islam di Hindia Belanda). Dalam
disertasinya itu, Kusumah Atmadja menguraikan Hukum Wakaf di Hindia
Belanda.Kusumah Atmaja menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI pada tanggal 29 April 1945. Badan ini
dibentuk sebagai upaya mendapatkan dukungan bangsa Indonesia dengan
janji Jepang akan membantu proses kemerdekaan Indonesia.Setelah
Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, Kusumah Atmaja ditugaskan
untuk membentuk lembaga peradilan Indonesia tertinggi yaitu Mahkamah
Agung Republik Indonesia pada tahun 1950.
Beliau diangkat menjadi ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia dari
tahun 1950 hingga beliau meninggal tahun 1952.Pada masa jabatannya ia
memindahkan kedudukan MA ke Jakarta dari sebelumnya di Yogyakarta.Beliau
pernah diminta oleh Belanda untuk memimpin Negara boneka bentukan
Belanda Negara Pasundan pada tahun 1947. Tapi beliau menolaknya.Jabatan
lain yang pernah disandang beliau adalah Guru Besar Fakultas Hukum
Universitas Gajah Mada dan Guru Besar Sekolah Tinggi Kepolisian.
K.H. Abdul Halim (lahir di Majalengka, Jawa Barat, 26 Juni 1887 –
meninggal 17 Mei 1962 pada umur 74 tahun) adalah pahlawan Indonesia yang
berjuang dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia hingga
mempertahankan dari Agresi Militer Belanda. Dalam mempertahankan
kemerdekaan Abdul Halim berbasis diGunung Ceremai untuk menghadapi
Agresi Militer Belanda II dengan berperang gerilya. Ia memimpin dalam
penghadangan militer Belanda di wilayah Keresidenan Cirebon. Ia, ikut
dalam BPUPKI dalam rangka persiapan kemerdekaan Indonesia sebagai
anggota BPUPKI.Gelar pahlawan nasional diberikan kepada Abdul Halim
bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008.
Keputusan ini disampaikan olehMenteri Komunikasi dan Informatika Kabinet
Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh pada tanggal 2 November 2008 di Jakarta
berdasarkan SK Presiden no /TK/2008 (6 November 2008).
Prof.Dr. Koesoemah Atmadja, SH.
Lahir
Purwakarta,Jawa Barat
Tgl : 8 september 1898
Meninggal
Meninggal
di Jakarta,11-08-52
dimakamkan
di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Ketua Mahkamah Agung Indonesia Pertama
SK Pres: 124 Tahun 1965 bertanggal 14 – 5 – 1965
Laksamana Laut R.E.Martadinata
Langganan:
Komentar (Atom)






